Jumat, 29 Agustus 2014

Jamuku Harapan Bangsaku, AEC 2015

-Tulisan Lomba Blog Dies Natalis ke 16 Pusat Studi Biofarmaka IPB-

***

Suwe ora jamu
Jamu godhong tela,
Suwe ora ketemu
Ketemu pisan gawe gela

Itulah lirik lagu yang sangat familiar saya dengar ketika masih kecil tentang jamu. Lirik yang sederhana namun penuh makna, bernada riang dan ringan untuk dinyayikan, maksud dari lagu ini adalah dimana dua orang yang telah lama tidak bertemu dan saat bertemu sungguh mengecewakan.


Seketika mendengar kata jamu saya langsung teringat lagu diatas dan teringat ketika saya kecil dulu. Teringat mbok jamu yang membawa gendongan botol-botol berisi jamu yang berwarna-warni. Ada yang hijau, coklat, hitam, ungu, coklat kekuningan, dan sebagainya. Setiap ada mbok yang lewat itu, ibu saya tidak pernah absen untuk membelinya. Saya pun ikut-ikutan ibu untuk mengonsumsi jamu. Ibu selalu menyuruh saya untuk meminum jamu daun pepaya. Memang dirasakan setelah meminum jamu badan lebih enteng dan enak.

Menginjak usia SD, ayah saya sakit dan harus mengikuti terapi. Disaat itu ayah meracik jamu sendiri dari daun meniran (Phyllanthus niruri), saya pun bertugas untuk mencarinya. Mencampurnya dengan air, kemudian direbus menggunakan ‘kendil’ dan di minum.

Beranjak dewasa, ternyata jamu sudah banyak bentuk dan macamnya. Sering saya temui berupa jamu kemasan. Jamu kemasan diproduksi oleh produsen atau pabrik jamu dalam jumlah besar. Kemudian didistribusikan ke toko, supermarket, termasuk juga di distribusikan ke kedai jamu. Jamu tidak mengenal kasta, dari rakyat jelata hingga para bangsawan sudah meminum jamu sejak dulu. Di era modern ini, jamupun mengalami modernisasi. Jamu dikemas secara menarik dan ekslusif, serta didistribusikan ke outlet-outlet di pusat perbelanjaan mewah.


Akhir-akhir ini sering kita dengar kata-kata “AEC” singkatan dari Asean Economic Community. Asean Economic Community (AEC) merupakan kesepakatan yang dibangun oleh sepuluh negara anggota ASEAN. Terutama di bidang ekonomi dalam upaya meningkatkan perekonomian di kawasan dengan meningkatkan daya saing di kancah internasional agar ekonomi bisa tumbuh merata, juga meningkatkan taraf hidup masyarakat, dan yang paling utama adalah mengurangi kemiskinan.

Ini merupakan ancaman sekaligus tantangan bagi bangsa Indonesia. Adalah kabar baik bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan resmi mengajukan jamu sebagai warisan budaya dunia karya bangsa Indonesia agar mendapat pengakuan dari UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB).  Upaya ini adalah langkah awal dan masih membutuhkan perjuangan dari segenap bangsa Indonesia.

Jamu Indonesia Bersaing di AEC
Menurut Vice President Sales and Marketing for Professional Products SOHO Global Health, Sugiharjo produk herbal telah digunakan oleh 80 persen penduduk dunia. Sedangkan di Indonesia, berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan pada 2006 pasar obat herbal di Indonesia mencapai Rp 5 triliun. Tahun 2007 mengalami peningkatkan menjadi Rp 6 triliun, dan pada 2008 naik lagi menjadi Rp 7,2 triliun. Sedangkan pada 2012 mencapai Rp 13 triliun atau sekitar dua persen dari total pasar obat herbal di dunia.

Saat ini, Indonesia memiliki kurang lebih 30.000 spesies tumbuhan dan 940 spesies di antaranya adalah tumbuhan berkhasiat obat. Sehingga, merupakan potensi yang sangat bagus untuk pasar obat herbal.

Namun disisi lain, ternyata banyak dari masyarakat non konsumen memandang bahwa jamu adalah produk yang ketinggalan jaman. Citra ini sangatlah tidak baik bagi masa depan jamu. Sebagai produk yang dipandang ketinggalan jaman, jamu tetap akan dianggap sebagai alternatif terakhir daripada obat-obatan farmasi. Jamu tidak akan mampu memperbesar potensi pasarnya. Malahan, pengguna saat ini pun akan semakin berkurang apabila terdapat inovasi baru dari produk non jamu Indonesia yang mampu memuaskan mereka. Harapan ini bukanlah mustahil. Mari kita lihat keberhasilan Jamu Tolak Angin dari Sido Muncul yang berhasil mengubah image-nya dengan kampanye ”Orang Pintar Minum Tolak Angin.” Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat perlu melakukan kampanye dengan tema ”Jamu Brand Indonesia kini Telah Modern”, ”Siapa Bilang Jamu Indonesia Ketinggalan Jaman?”, ”Kini Ketinggalan Jaman Bila Tidak Kenal Jamu”, dan sebagainya.

Menurut saya ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar jamu Indonesia bisa bersaing di AEC.

1.  Melakukan riset yang lebih mendalam mengenai jamu
Seperti yang kita tahu bahwa jamu merupakan obat tradisional yang resepnya berasal dari nenek moyang. Tentunya butuh pengkajian lebih mendalam mengenai resep-resep tersebut, sehingga dapat menciptakan jamu dengan khasiat dan mutu tinggi dengan komposisi yang pas, khasiat, dan juga efek samping dari jamu tersebut. Selain itu juga dapat menghasilkan jamu yang memiliki rasa dan bentuk yang disukai oleh konsumen.

2. Memperindah pengemasan jamu
Dengan pengemasan yang bagus konsumen akan lebih tertarik untuk membeli jamu. Karena akan mampu menimbulkan kesan bahwa jamu itu memiliki kualitas yang tinggi, kaya manfaat dan khasiat yang baik.

3. Sosialisasi tentang penggunaan jamu brand Indonesia
Sosialisasi bisa dilakukan dengan iklan di berbagai media elektronik seperti televisi, fb, twitter, maupun sosialisasi langsung ke masyarakat tentang keuntungan mengonsumsi jamu brand Indonesia. Dengan seperti ini diharapkan mampu mengubah mind site masyarakat Indonesia sehingga mampu beralih dari penggunaan obat kimia ke obat herbal atau jamu.

4. Regulasi dan Harga yang bersaing
Pengaturan perdagangan jamu sesuai dengan peraturan yang berlaku akan mempengaruhi jumlah dan pola pemasaran jamu di masyarakat. Hal ini akan menjadikan jamu sebagai produk yang beredar guna memenuhi kebutuhan konsumen dengan karakteristik tertentu.

Adalah kewajiban kita bersama untuk memajukan jamu di Indonesia. Butuh kerjasama yang baik antara pemerintah, pabrik, peneliti, dan masyarakat. Mari bersama cintai jamu Indonesia untuk memajukan bangsa. :)

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-news/brc-info/501-info-jamu-as-world-cultural-heritage-2013

16 komentar:

  1. bagus mas burhan :D
    Mari kampanyekan hidup sehat dengan tradisional yang modern :D

    BalasHapus
  2. Apek bur, sg penting istiqomah... Hehehee

    BalasHapus
  3. vero: siap vero.. :)
    deni: sip, doakan bisa istiqomah den.. :)

    BalasHapus
  4. wah menarik sekali mas bur...lanjutkan:)

    BalasHapus
  5. santi indah lestari30 Agustus 2014 23.41

    jadi inget sama mbok jamu yang setiap hari lewat depan rumah, sambil menawarkan jamu gendongnya " jamu neng..?"
    semangat kak_ bur :)

    BalasHapus
  6. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  7. wah ternyata santi suka jamu juga.. | siap sant :)

    BalasHapus
  8. semangat kak burhan! ayo kita perjuangkan kearifan lokal indonesia ! AEC, CAFTA , apapun itu kita gk akan kalah saing. he he

    BalasHapus
  9. wah keren nie.... / dulu waktu kecil suka nya jamu kencur dan jamu asem....

    BalasHapus
  10. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  11. Ditahun 2015 nanti saat AEC mulai berlaku maka dengan mudahnya semua produk dari negara ASEAN akan masuk ke Indonesia. Dan itu akan berbahaya jika produk makanan atau obat-obatan yang masuk ke Indonesia justru mengandung zat yang berbahaya bagi tubuh.
    dari mulai saat ini kita harus memperbaiki branding-branding produk lokal Indonesia agar bisa bertahan minimal di negara sendiri syukur-syukur bisa eksis di negara luar.
    Berbagai inovasi butuh dikembangkan untuk menyelamatkan produk lokal kita. Mungkin salah satunya ya produk jamu yang seperti ini. Selain untuk mempertahankan warisan budaya bangsa juga sebenarnya sangat bermanfaat bagi kesehatan dibanding produk obat kimia laiinya.

    Keren nih inovasinya...... semoga bisa terus diperjuangkan dan bisa bertahan di AEC nanti.
    Semoga semakin byk generasi yang membantu mempertahankan kearifan lokal kita
    semangat....
    Ciri khas bangsa Indonesia harusnya bisa tembus AEC

    BalasHapus
  12. Indonesia emang kaya bingit.
    Kaya SDA, kaya tradisi..
    Tanaman yang imut aja bisa disulap jadi obat berkhasiat yang harus terus go mendunia..
    Go, kearifan lokal Indonesia!
    Semangat, Mas Bur!

    BalasHapus
  13. Bagus, perlu di tingkatkan baik dari segi rasa atau kemasan, Supaya bisa di gunakan oleh semua lapisan masyarakat, anak kecil, sampai kakek nenek,
    Kemudian yg terpenting adalah kita harus membeli nya dn menggunakannya
    Hidup sehat dengan herbal

    BalasHapus
  14. Untuk bisa bersaing ternyata pr nya sangat banyak, semoga bangsa ini mampu menjawabnya. Salam kenal sebelumnya. Silahkan mampir juga di blog saya http://sulistyoriniberbagi.blogspot.com/2014/08/melestarikan-jamu-memajukan-budaya.html

    BalasHapus
  15. pengen jualan jamu tp ga tahu caranya bikin jamu yg modern...

    BalasHapus

Silakan teman-teman komentar ya? ^^